Pelatihan Dasar Penataan Ruang Wilayah dan Kawasan
Werdhapura, Sanur, Denpasar Bali,
16-20 Nopember 2009
Dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan sumberdaya manusia bidang penataan
ruang di daerah, Balai Informasi Penataan Ruang (BIPR), Sekretariat
Direktorat Jenderal Penataan Ruang, Departemen Pekerjaan menyelenggarakan
Pelatihan Dasar Penataan Ruang Wilayah dan Kawasan pada 16-20 Nopember
di Werdhapura, Sanur, Denpasar Bali. Kegiatan pelatihan ini merupakan
langkah awal dalam rangka mewujudkan Balai Informasi Penataan Ruang
sebagai Pusat Informasi dan Pusat Pelatihan Penataan Ruang di masa mendatang,
sebagaimana yang dicanangkan dalam road map BIPR.
Pelatihan ini diikuti oleh 38 peserta
yang terdiri perwakilan Bappeda Provinsi, Dinas PU Provinsi, Bappeda
Kabupaten/Kota di Provinsi Bali, dan perwakilan dari Universitas. Dalam
menjawab kebutuhan, tantangan dan permasalahan penyelenggaraan penataan
ruang di daerah, pelatihan ini lebih diarahkan sebagai simulasi dari
kehidupan nyata para penyelenggara penataan ruang di daerah dalam mengemban
tugasnya. Hal tersebut disebutkan pula oleh Ir. Made Bagus Budiardjo,
MA selaku Kepala Balai, dalam pidato sambutannya yang menyebutkan bahwa
tujuan dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kompetensi aparat
pemerintah dalam pelaksanaan penataan ruang; terutama dalam hal penyusunan
rencana dan pengendalian pemanfaatan RTRW provinsi..
Secara keseluruhan jumlah jam pelajaran yang dirancang dalam penyelenggaran pelatihan ini adalah sebanyak 40 jam pelajaran, dengan menggunakan metode Problem Based Learning atau Pembelajaran Berbasis Masalah. Peserta secara berkelompok akan diberi kesempatan untuk merumuskan sendiri isu-isu pembelajaran yang mereka perlukan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Selanjutnya peserta akan melakukan riset mandiri dengan memanfaatkan berbagai sumber (perpustakaan, basis data BIPR, kunjungan lapangan, wawancara dengan 4 orang nara sumber dari Direktorat Jenderal Penataan Ruang, pencarian data dari sistus-situs di internet). Dalam pelatihan ini, setiap kelompok didampingi seorang instruktur yang lebih berperan sebagai fasilitator dari proses pembelajaran yang dilakukan masing-masing peserta. Peran Instruktur adalah membantu peserta dalam hal pengembangan cara belajarnya (proses pembelajarannya). Terdapat 5 instruktur yang terlibat dalam proses pelatihan ini, kesemua instruktur tersebut diambil dari berbagai perguruan tinggi antara lain : ITB, ITS, Undip dan Unwim.
Dalam kesempatan pelatihan ini, dilakukan pula kuliah lapangan ke Gunung
Batur dan Pantai Kuta untuk memberikan gambaran nyata kepada para peserta
tentang praktek mitigasi bencana dalam penataan ruang. Dalam kunjungan
ke Gunung Batur, peserta menyempatkan diri untuk mengunjungi Museum
Geologi untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang kondisi Gunung
Batur dan menambah pengetahuan terkait mitigasi bencana.
Berbekal riset mandiri yang telah
dilakukan oleh setiap kelompok dan temuan-temuan hasil kunjungan lapangan,
selanjutnya setiap kelompok diminta untuk memaparkan hasil akhir yang
telah mereka rumuskan sesuai dengan soal kasus yang diberikan oleh pengajar.
Diskusi antar kelompok berlangsung dengan dinamis, dimana setiap kelompok
diminta untuk memberikan tanggapan dan masukan terhadap paparan kelompok
lainnya.
Proses pembelajaran semakin lengkap ketika para pengajar memberikan refleksi proses pembelajaran setelah semua kelompok memaparkan hasil pembelajarannya. Setiap peserta diminta untuk menyampaikan hasil refleksi mereka tentang proses pembelajaran yang telah mereka alami. Selain itu masing-masing instruktur diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya tentang kelebihan maupun kekurangan yang terjadi dalam proses pembelajaran di kelompoknya.
Setelah
melalui proses panjang yang melelahkan, akhirnya kegiatan pelatihan
ini ditutup pada hari Jumat, 20 Nopember 2009. Dari hasil penyebaran
angket yang dilakukan panitia diakhir kegiatan, sebagian besar peserta
memberikan apresiasi yang cukup besar terhadap kegiatan ini dan berharap
agar kegiatan serupa akan berlanjut pada masa mendatang.