Peran hutan mangrove
Peran hutan mangrove ditinjau dari aspek penataan ruang memiliki peran sebagai stabilitasi Kawasan Pesisir. Dalam upaya mengurangi berbagai ancaman bencana alam khususnya bahaya tsunami, dan sekaligus untuk melindungi wilayah pesisir dari ancaman abrasi, angin laut, penyusupan air asin ke arah daratan, menyerap bahan pencemar, serta mempertahankan produktivitas pantai dan laut, perlu dibuat zona perlindungan wilayah pesisir dengan pembangunan hutan mangrove ataupun hutan pantai. Disamping itu pula hutan mangrove memiliki peran untuk melindungi maupun melestarikan komponen ekosistem wilayah pesisir dan laut.

Gambar 1 Sebaran Mangrove di Dunia
Fungsi Mangrove
1. Ditinjau dari aspek ekologis
Secara ekologis fungsi hutan mangrove dalam melindungi dan melestarikan kawasan pesisir, yaitu:
a. Melindungi garis pantai dan kehidupan di belakangnya dari gempuran tsunami dan angin, karena kondisi tajuknya yang relatif rapat, dan kondisi perakarannya yang kuat dan rapat mampu mencengkram dan menstabilkan tanah habitat tumbuhnya, dan sekaligus mencegah terjadinya salinisasi pada wilayah-wilayah di belakangnya.
b. Melindungi padang lamun dan terumbu karang, karena sistem perakarannya mampu menahan lumpur sungai dan menjerap berbagai bahan polutan, yang secara ekologis pada akhirnya akan dapat melindungi kehidupan berbagai jenis flora dan fauna yang berasosiasi dengan padang lamun dan terumbu karang.
c. Melindungi tempat buaya dan berpijahnya berbagai jenis ikan dan udang komersial, termasuk melindungi tempat tinggal, baik tetap maupun sementara berbagai jenis burung, mamalia, ikan, kepiting, udang, dan reptilia, yang banyak diantaranya termasuk jenis binatang yang dilindungi undang-undang.
2. Ditinjau dari aspek fisik
Secara fisik, vegetasi hutan mangrove juga berperan dalam melindungi wilayah daratan dari abrasi dan tsunami. Hal ini menunjukan bahwa pembangunan hutan mangrove juga akan sekaligus dapat mengurangi ancaman tsunami bagi berbagai kota besar. Berdasarkan pengalaman di lapangan, akibat gelombang tsunami 26 Desember 2004, menunjukan bahwa wiliayah pesisir NAD dan Nias yang mengalami rusak berat adalah pada wilayah pesisir yang tidak ada penyangga mangrove ataupun hutan pantai lainnya.
3. Ditinjau dari aspek sosial
Secara sosial, hutan mangrove juga dapat melestarikan adanya keterkaitan hubungan sosial dengan masyarakat setempat. Karena banyak diantara masyarakat yang membutuhkan mangrove sebagai tempat mencari ikan, kepiting, udang, maupun mendapatkan kayu dan bahan untuk obat-obatan.
4. Ditinjau dari aspek ekonomi
Secara ekonomi, hutan mangrove secara luar akan dapat melindungi nilai ekonomi maritime (Alikodra, 2002). Karena kemampuannya sebagai tempat berpijah berbagai jenis ikan dan udang komersial, ataupun habitat kepiting bakau.

Gambar 2 Hutan Mangrove
Ekosistem Mangrove
Luas hutan mangrove di Indonesia yang diperkirakan sekitar 3,5 juta hektar merupakan lahan mangrove terluas di dunia (18-23%), melebihi Brazil (1,3 juta ha), Nigeria (1,1 juta ha), dan Australia (0,97 juta ha) (Spalding dkk, 1997). Umumnya mangrove dapat ditemukan di seluruh kepulauan Indonesia.
Luas hutan mangrove si Bali sekitar 3000 ha (Dinas Kehutanan Provinsi Bali) yang tersebar di beberapa kabupaten. Seluas 451.21 ha terdapat di provinsi Jembrana, 602 ha di Buleleng, 88.19 ha di Tabanan dan 202 ha di Nusa Lembongan. Mangrove yang cukup luas bisa dijumpai di kawasan Taman Hutan Raya Nasional (Badung dan Denpasar) yang membentang dari Sanur sampai Nusa Dua seluas 1373.5 ha.

Gambar 3 Sebaran Mangrove di Bali