Sabtu, 19 May 2012
   Anda ada di:   BerandaArtikel BIPRPerwujudan Kota Lestari

Perwujudan Kota Lestari

Selasa, 02 Agustus 2011 10:43

Prakarsa DJPR Kementerian PU terkait perwujudan Kota Lestari berbasis masyarakat telah dilaksanakan sejak tahun 2009 dan terus akan dilanjutkan secara bertahap. Hal ini sekaligus sebagai upaya pembelajaran baik terhadap Pemerintah Pusat, Pemerintah Kota dan masyarakat terkait.

Bandung

  1. Peta Hijau. Peta hijau sebagai upaya kreatif kesamaan fokus dan target penanganan masalah sampah Kota Bandung. Peta hijau adalah sebuah erobosan dalam memetakan potensi informasi secara partisipatif.
  2. Manajemen Sampah untuk Kawasan Rumah Tangga (MASUK RT). Pembuatan system Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat (PSBM) dengan pendekatan edukatif, partisipatif, dan penguatan manajerial. Dalam kegiatan ini, dikenalkan Keranjang Takakura, merupakan alat pengomposan skala rumah tangga yang terdiri dari keranjang yang sudah berisi kompos. Merupakan temuan pakar kompos dari Jepang Koji Takakura (2005) saat riset di Surabaya.

 

PERWUJUDAN KOTA LESTARI (Lanjutan)

Yogyakarta

Pemukiman Kali Code di bawah jembatan Gondolayu merupakan kampung binaan Romo Mangun yang pada awalnya merupakan perkampungan kumuh yang kemudian menjelma menjadi permukiman yang berdaya dan mandiri. Konsep utama adalah menciptakan sungai bersih dan wisata air sebagai ikon kepada warga sekitar Kali Code maupun wisatawan.

Lingkup kegiatan meliputi pengembangan ekonomi kampung melalui perikanan empang turap, penyuluhan dan pelatihan terkait pemilihan benih, pengelolaan sampah, pembuatan olahan ikan dan manfaat gizi ikan.

Surabaya

Kegiatan penataan sebagai model/ujicoba kawasan eco city berwawasan budaya lokal. Boezem Morokrembangan dipilih karena fungsi boezem sebagai penyangga banjir kota. Selama puluhan tahun, lokasi di sekitar boezem dipenuhi permukiman yang berkembang secara incremental dengan status 80% terindikasi ilegal.

Kebiasaan buruk warga pada umumnya adalah membuang sampah dan limbah sembarangan, baik di boezem maupun di sungai maupun di selokan yang mengalir ke boezem. Selain itu sungai-sungai yang bermuara di boezem (Kali Greges, Kali Pesapen, dan Kali Purwodadi) juga membawa serta sampah dan limbah dari penduduk di bagian lain kota Surabaya.

Perwujudan Kota Lestari dengan berbagai motivasi meliputi (sedang dalam proses):

  1. Kampung Bumen. Kampung Bumen berada di Kelurahan Purbayan Kota Yogyakarta, dikelilingi kampung-kampung industri perak dan kerajinan rumahan lainnya. Dari kegiatan ini diharapkan terwujud rasa cinta kampung yang meningkat, melalui pengenalan sejarah kampung, berbagai aspek keruangan kampung yang memiliki karakter dan penyusunan rencana aksi penguatan kualitas fisik kampung.
  2. Pekalongan – Binatur Riverwalk. Binatur Riverwalk merupakan prakarsa penataan ruang pejalan kaki sepanjang Kali Asem Binatur. Pengembangan kawasan Binatur Riverwalk diimpikan menjadi sentra kawasan wisata tepi sungai yang berbasis pada penumbuhan ekonomi lokal dan perwujudan keseimbangan lingkungan.
  3. Keraton Buton – Bau-bau. Konsep yang ditawarkan dalam peningkatan penataan kawasan Keraton Buton adalah konservasi Keraton Buton yang terintegrasi dengan keberadaan masyarakat asli suku Buton. Kawasan Benteng Keraton Buton adalah jenis kawasan Intra Muros yakni kota dalam benteng yang harus dilestarikan. Benteng ini merupakan benteng terluas di Indonesia dan juga dunia dengan luas 22 ha dan 12 pintu gerbang (lawa) serta 16 buah bastion (baluara).
  4. Perencanaan tata  ruang partisipatif sebagai solusi konflik sosial nelayan di Kelolah, Palu. Hasil catatan YPR dan Serikat Nelayan Teluk Palu, setiap tahunnya terjadi penurunan pendapatan nelayan tradisional (nelayan kecil) 10-50% akibat beroperasinya alat tangkap besar di Teluk Palu.
  5. Optimalisasi lahan fasilitas umum sebagai tempat untuk meningkatkan kualitas kehidupan bermasyarakat (lokasi Bogor). Perlunya konsep penyelenggaraan fasilitas umum di lingkungan komplek perumahan mempertimbangkan kondisi lingkungan di luar kompleks agar keberadaan fasilitas umum dapat menjadi sarana sosialisasi antar masyarakat kompleks dan di luar kompleks.
  6. Penataan Kali Mati Sonorejo (lokasi Sukoharjo). Kali Mati Sonorejo merupakan bekas aliran sungai Bengawan Solo yang tidak berfungsi lagi. Saat ini berubah menjadi genangan air yang sangat luar dan belum termanfaatkan. Akibatnya daerah di sekitarnya berpotensi menjadi endemi penyakit demam berdarah. Limbah industri kerajinan kulit yang dibuang di Kali Mati juga menimbulkan permasalahan lingkungan tersendiri. Kegiatan ini diharapkan dapat mewujudkan Kali Mati sebagai ruang terbuka hijau, area budidaya ikan dan pemancingan, serta pengembangan peternakan terpadu.
  7. Penyusunan program pembangunan Pulau Pramuka (lokasi Kepulauan Seribu). Pulau Pramuka saat ini mengemban fungsi pemerintahan, pariwisata dan permukiman. Sering ditemui tumpang tindih kepentingan pemanfaatan ruang. Pendekatan bottom up dalam penyusunan program perlu dilakukan sebagai upaya mewujudkan harmonisasi ruang pulau sesuai fungsinya.
  8. Pertanian Kota (lokasi Bandung). Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) kota dengan konsep urban farming di Komplek Perumahan Asri Padasuka Bandung melalui peran serta masyarakat yang diwujudkan dengan pertanian hortikultura.
  9. Pemanfaatan ruang terbukan Pondok Indah (lokasi Jakarta). Beberapa warga yang prihatin terhadap lingkungan, berkumpul dan membentuk komunitas Hijau Pondok Indah, mendorong aspek hijau dan ekologis menjadi program dan tindakan nyata. Komunitas Hijau Pondok Indah merupakan wadah untuk menampung ide dan kemampuan mengenai bagaimana membuat Pondok Indah lebih ramah lingkungan dan nyaman.